Rabu, 24 Agustus 2016

Sejarah Kecamatan Kunir

Sejarah Kecamatan Kunir (Asal-usul)





            Kunir adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Terletak sekitar 12 km di selatan Kota Lumajang, Kunir dilintasi jalan yang menghubungkan Tempeh dengan Yosowilangun. Kunir kemungkinan telah dihuni orang semenjak dahulu kala. Toponimi Kunir (sebagai Kunir [dan] Basini) telah disebut-sebut dalam Kitab Kakawin Nagarakretagama sebagai tempat yang dilalui oleh Raja Hayam Wuruk dalam perjalanannya di wilayah Lamajang.
            Sejarawan Th.G.Th. Pigeaud menafsirkan Kunir dalam kitab babad tersebut sebagai wilayah Kunir yang sekarang. Begitu pula pendapat dua artikel yang ditulis sekitar seabad yang lalu. Baru-baru ini di wilayah Desa Kedungmoro, tidak begitu jauh di sebelah utara kota Kunir sekarang, ditemukan petilasan sebuah candi yang diduga berasal dari masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 dan 14). Candi itu merupakan candi hindu. Dinamakan kecamatan “KUNIR” karena tumbuhan ini tumbuh dimana-mana pada masa itu.
            Adapun asal-usul Kecamatan kunir berdasarkan cerita rakyat yang tumbuh dan hidup di tengah-tengah masyarakat bahwa dasar penamaan Kunir terhadap wilayah yang sekarang mencapai 50,18m2. Kunir merupakan wilayah Indonesia yang tepatnya berada di Jawa Timur juga tak luput dari penjajahan Belanda. Hal ini ditemukannya uang logam atau biasa disebut koin yang bertuliskan nama Belanda. Uang yang ditemukan untuk tahun tertua ialah 1790 dan yang paling baru untuk tahun yang tertera dalam uang tersebut ialah 1957. Dimana pada 1957 merupakan saat dimana Indonesia sudah merdeka.
            Adapun uang yang ditemukan memiliki nama lokal yang dinamakan berdasarkan versi masyarakat Kunir. Ada uang yang disebut uang Mandong yang pada kala itu mempunyai nilai yang cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai perhiasan. Selain itu masyarakat Kunir juga mengenal uang yang disebut dengan uang Inggris meskipun pada dasarnya uang yang disebut uang Inggris tersebut adalah uang koin yang dipengaruhi atau dapat dikatakan sebagai uang dari bangsa Belanda. Hal tersebut mungkin terjadi karena masyarakat Kunir beranggapan bahwa Belanda menggunakann bahasa Inggris. Ada uang yang disebut besisi karena nilainya yang rendah.
            Uang yang pertama ialah uang koin yang bertuliskan VOC dengan tahun 1790. Uang ini dimungkinkan digunakan dalam kegiatan jual beli sehari-hari namun karena tahun yang sudah terlalu lama sulit untuk diketahui satuannya. Namun masalah uang yang berlaku di Kecamatan Kunir tidak berhenti disini saja. Di Kecamatan Kunir ini ditemukan uang yang biasa disebut uang mandong oleh masyarakat setempat.
            Tak luput dari sejarah kecamatan kunir dengan macam-macam uangnya. Dahulu kunir dikatakan sebagai temat yang ramai ketika Hayam Wuruk melewati kecamatan Kunir saat ada di Lamajang Tigang Juru. Bahkan ada cerita rakyat tentang sejarah kunir mengenai Kumbara. Itulah tadi pembahasan mengenai kecamatan Kunir. Kita sebagai warga kunir patut bangga tinggal di desa karena kita masih dapat melihat hijaunya pohon di bandingkan hidup di kota banyak berbagai macam pencemaran.

Ditulis oleh : Dewi Rohmawati


Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar