Sejarah Kecamatan Kunir (Asal-usul)
Kunir
adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Terletak sekitar 12 km di selatan Kota Lumajang, Kunir dilintasi jalan yang
menghubungkan Tempeh dengan Yosowilangun. Kunir kemungkinan telah dihuni orang
semenjak dahulu kala. Toponimi Kunir (sebagai Kunir [dan] Basini) telah
disebut-sebut dalam Kitab Kakawin Nagarakretagama sebagai tempat yang dilalui
oleh Raja Hayam Wuruk dalam perjalanannya di wilayah Lamajang.
Sejarawan
Th.G.Th. Pigeaud menafsirkan Kunir dalam kitab babad tersebut sebagai wilayah
Kunir yang sekarang. Begitu pula pendapat dua artikel yang ditulis sekitar
seabad yang lalu. Baru-baru ini di wilayah Desa Kedungmoro, tidak begitu jauh
di sebelah utara kota Kunir sekarang, ditemukan petilasan sebuah candi yang
diduga berasal dari masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 dan 14). Candi itu
merupakan candi hindu. Dinamakan kecamatan “KUNIR” karena tumbuhan ini tumbuh
dimana-mana pada masa itu.
Adapun
asal-usul Kecamatan kunir berdasarkan cerita rakyat yang tumbuh dan hidup di
tengah-tengah masyarakat bahwa dasar penamaan Kunir terhadap wilayah yang
sekarang mencapai 50,18m2. Kunir merupakan wilayah Indonesia yang
tepatnya berada di Jawa Timur juga tak luput dari penjajahan Belanda. Hal ini
ditemukannya uang logam atau biasa disebut koin yang bertuliskan nama Belanda. Uang yang
ditemukan untuk tahun tertua ialah 1790 dan yang paling baru untuk tahun yang
tertera dalam uang tersebut ialah 1957. Dimana pada 1957 merupakan saat dimana
Indonesia sudah merdeka.
Adapun uang yang ditemukan
memiliki nama lokal yang dinamakan berdasarkan versi masyarakat Kunir. Ada uang
yang disebut uang Mandong yang pada kala itu mempunyai nilai yang cukup tinggi
karena dapat digunakan sebagai perhiasan. Selain itu masyarakat Kunir juga
mengenal uang yang disebut dengan uang Inggris meskipun pada dasarnya uang yang
disebut uang Inggris tersebut adalah uang koin yang dipengaruhi atau dapat
dikatakan sebagai uang dari bangsa Belanda. Hal tersebut mungkin terjadi karena
masyarakat Kunir beranggapan bahwa Belanda menggunakann bahasa Inggris. Ada
uang yang disebut besisi karena nilainya yang rendah.
Uang yang pertama ialah
uang koin yang bertuliskan VOC dengan tahun 1790. Uang ini dimungkinkan
digunakan dalam kegiatan jual beli sehari-hari namun karena tahun yang sudah
terlalu lama sulit untuk diketahui satuannya. Namun masalah uang yang berlaku
di Kecamatan Kunir tidak berhenti disini saja. Di Kecamatan Kunir ini ditemukan
uang yang biasa disebut uang mandong oleh masyarakat setempat.
Tak luput dari sejarah
kecamatan kunir dengan macam-macam uangnya. Dahulu kunir dikatakan sebagai
temat yang ramai ketika Hayam Wuruk melewati kecamatan Kunir saat ada di
Lamajang Tigang Juru. Bahkan ada cerita rakyat tentang sejarah kunir mengenai
Kumbara. Itulah tadi pembahasan mengenai kecamatan Kunir. Kita sebagai warga kunir
patut bangga tinggal di desa karena kita masih dapat melihat hijaunya pohon di
bandingkan hidup di kota banyak berbagai macam pencemaran.
Ditulis oleh : Dewi Rohmawati
Sumber :
- https://id.wikipedia.org
- http://zainulhasansejarah.blogspot.co.id/
- Bapak Sucip dan Ibu Supatemi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar